TANAH LATERIT MERAH KUNING

Juli 3, 2011 at 5:03 pm (Uncategorized)

DESKRIPSI UMUM

Berdasarkan klasifikasi USDA, tanah Laterit memiliki padanan nama yaitu Oxisols. Tanah ini merupakan tanah mineral yang kaya akan seskuioksida dan telah mengalami pelapukan yang lanjut. Tanah ini miskin akan mineral-mineral yang mudah lapuk, kandungan mineral resisten sangat tinggi dan KPK tanah sangat rendah (Soil Survey Staff, 1998).

Tanah ini dicirikan oleh adanya horison oxic pada kedalaman kurang dari 1,5 m atau memilki horison candic yang jumlah  mineral mudah lapuk memenuhi syarat horison oxic.. tanah ini memiliki sifat-sifat khusus seperti cadangan  hara yang sangat rendah, kesuburan alami sangat rendah, kandungan Al dapat dipertukarkan tinggi, permeabilitas baik, dan tanah terhadap erosi. Walaupun demikian beberapa jenis tanah ini (Laterit/Oxisols) misalnya dari great group Eutrotrorrox, memilki kejenuhan basa tinggi di seluruh profilnya (Hardjowigeno, 1993).

Penyebaran tanah ini di Indonesia diperkirakan 8.085 juta ha yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, dan Jawa. Masing-masing seluas 4.016; 2,449; 0.789; 0.296 dan 0.135 juta ha (Puslittanak, 1997). Karena tanah ini merupakan tanah mineral yang kaya akan seskuioksida maka tanah ini mempunyai muatan positif dan didominasi oleh liat aktivasi rendah.

PROSES PEMBENTUKAN

Laterisasi merupakan proses pembentukan dari tanah Laterit. Biasa juga disebut dengan Latosolisasi atau juga disebut sebagai Feralisasi. Pada intinya proses pembentukan tanah Laterit merupakan perkembangan dari pelapukan lebih lanjut dari tanah Latosol.

Curah hujan yang tinggi (basah atau lembab) ditambah temperatur yang tinggi menyebabkan gaya-gaya perkembangan tanah di daerah tropika lebih cepat dan lebih intensif akibat pertumbuhan yang lebat. Temperatur yang tinggi mempercepat proses mineralisasi bahan organik yang dapat mengimbangi proses humifikasi, sehingga terbentuk CO2 dan H2O. Zat-zat ini selanjutnya mempercepat proses dekomposisi batuan-batuan, dan juga silikat Al dan Fe dengan melarutkan ion basa seperti K, Ca, Na, dan Mg. Tak adanya proses gleisasi mempertinggi intensitas pelarutan basa. Adanya basa-basa sebagai kation menjadikan laarutan tanah beraksi basa.

Hasil proses perkembangan tanah yang sempurna semaccam ini berupa pelindian semua unsur-unsur basa, silika, dan bahan organik sampai habis dengan meninggalkan senyawa-senyawa oksida besi, AL, dan Mn dalam lapisan tanah atas.

Beberapa pendapat mengatakan bahwa tertimbunnya oksida Fe, Al, dan mn pada lapisan tanah atas disebabkan oleh adanya kenaikan kapiler air tanah. Naiknya kapiler air tanah menyebabkan basanya reaksi larutan tanah. Berdasarkan kenyataan profil tanah laterit merupakan ciri perkembangan batuan basa, maka adanya larutan basa disebabkan karena terlindinya basa akibat dekomposisi batuan basa (Baver, 1956). Pendapat lain mengatakan, bahwa dalam iklim tropika, silikat mengalami hidrolisa karena adanya hidroxil bebas yang menjadikan hidrat silika negatif stabil, sehingga menjadi mudah terlindi. Sebaliknya ion OH bereaksi dengan Al2O3 dan Fe2O3 dengan membentuk koagulat dan Kristal yang stabil (Weigner, 1926).

Intensifnya perkembangan tanah di daerah tropika basah menyebabkan terbentuknya tanah Laterit memilki solum yang sangat dalam. Tanah-tanah ini dapat berkembang dari macam-macam bahan induk, seperti batuan beku granit, basalt, batu pasir dan andesit. Perbedaan sifat dan jenis batuan induk dpat dihilangkan oleh kegiatan proses perkembangan tanah, sehingga hasilnya hampir serupa yaitu pada tanah berwarna merah, merah kuning, atau merah cokelat yang mengandung sebagian besar lempung silikat kaolinit (1:1) yang memilki sifat-sifat koloid rendah, dan reaksinya masam karena sebagian besar basanya telah terlindi.

Dari uraian diatas, proses pembentukan tanah Laterit atau Laterisasi merupakan proses pelapukan lanjut dari tanah Latosol dimana terjadi proses pemindahan/pelindian silika dan ion-ion basa secara kimia dari solum tanah hingga konsentrasi Fe dan Al meningkat secara relatif. Terjadi pada daerah tropika dimana curah hujan dan suhu tinggi sehingga Si dan ion basa mudah larut. Tanah Latosol yang mengalami perkembangan lanjut seperti inilah nantinya akan membetuk tanah  Laterit, atau berdasarkan klasifikasi USDA memiliki pada padanan nama tanah Oxisols.

Ciri-ciri tanah ini secara garis besar yaitu :

  1. CH intensif, sehinggga drainase intensif
  2. Memiliki solum 10-20 m
  3. Memiliki nilai Chroma dan Value tinggi
  4. Perkembangan horison lanjut
  5. pH tanah masam
  6. kadar lempung tinggi, tipe 1:1 (kaolinit)
  7. KB dan KPK rendah
  8. Kadar BO rendah
  9. Kurang baik untuk pertanian

PERMASALAHAN

Masalah utama yang terdapat pada jenis tanah ini adalah tingginya jerapan P dan rendahnya ketersediaan serta efisiensi  pemupukan P sehingga kondisi ini merupakan kendala yang harus diatasi oleh pengelolaan Oxisols/tanah Laterit untuk pengembangan tanaman pertanian.

Untuk mengatassi kendala-kendala tersebut di atas beberapa upaya yang dapat dilakukan diantaranya adalah dengan mengurangi kepasitas jerapan P melalui pemberian kapur (CaCO3) dan pemupukan P. Kalsium karbonat yang diberikan ke tanah akan mengalami hidrolisis dengan reaksi kimia sebagai berikut :

CaCO3 + H2O                      Ca2+ + OH¯ + HCO3¯

Selanjutnya OH¯ akan menetralkan H+ dalam larutan H2O atau Al3+ membentuk Al(OH)3. Dengan demikian penetralan terjadi dan selanjutnya kelebihan OH¯ akan menyebabkan pH menjadi naik.

Kekahatan P yang sering terjadi pada tanah ini dapat dikurangi dengan pemberian pupuk P, yaitu SP 36 dan fosfat alam. Akan tetapi karena tingginya oksida-oksida Fe dan Al pada tanah menyebabkan efisiensi pupuk menjadi rendah terutama jika SP 36 diberikan tanpa didahului pengapuran. Sebaliknya pemberian fosfat alam pada tanah yang telah menerima CaCO3, kemungkinan dapat menurunkan kelarutan pupuk. Oleh karena itu pemberian CaCO3 akan menjadi salah satu alternatif lain yang perlu diteliti, terutama terhadap efisiensi pemberian fosfat alam.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

SOAL UJIAN PENGELOLAAN TANAH DAN AIR

November 4, 2010 at 9:17 am (Uncategorized)

soal UTS 2010-2011 PT

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MATERI PERENCANAAN PENGEMBANGAN WILAYAH

Oktober 29, 2010 at 7:23 am (MATERI KULIAH)

PERENCANAAN PENGEMBANGAN WILAYAH

bab-i_awal

Contoh Anal Swot

I WilayahPRESENTASI PPW

UU No. 41 Tahun 2009 tentang PLPPB

II DAYA DUKUNG LAHAN

III. ANALISIS ALOKASI PEMANFAATAN

Index Storie

PROPOSAL UTAMA

VII. ETIKA PEMANFAATAN WILAYAH

VIII. RTRW

YI. PENGEMBANGAN WILAYAH

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Apa Sih Sistem Informasi Sumberdaya Lahan Itu…???

Oktober 25, 2010 at 12:48 pm (PIKIR-PIKIR SAMBIL NGUPIL)

Sumber daya lahan adalah segala sesuatu yang bisa memberikan manfaat di lingkungan fisik dimana meliputi tanah, iklim, relief, hidrologi dan vegetasi yang ada. Dari semua faktor yang ada tersebut dapat mempengaruhi potensi dalam penggunaan lahannya, termasuk di dalamnya adalah akibat dari kegiatan-kegiatan manusia baik di masa lalu maupun masa sekarang. Sebagai contoh adalah penebangan hutan dan penggunaan lahan baik untuk pertanian maupun untuk bidang lainnya. Kaitan dengan lahan tersebut maka diperlukan suatu interpretasi lahan agar kita dapat  melihat beragam komponen lahan dari berbagai segi, baik mengenai luasan, lokasi, potensi yang ada, nilai ekonomi, ekosistem yang berkembang dan sifat dari tiap komponen tersebut. Output dari interpretasi tersebut maka akan dihasilkan suatu informasi lahan yang berguna bagi para penggunanya tergantung dari jenis bidang dan kebutuhan masing-masing. Namun, dalam penyajian informasi lahan tersebut tidak hanya didasarkan hanya dari satu jenis informasi saja, tetapi penyajian informasi lahan yang diharapakan adalah mencakup berbagai jenis informasi lainnya yang saling berhubungan.

Dalam kegiatan-kegiatan yang membutuhkan informasi tentang sumber daya lahan  dari suatu daerah diperluakan waktu dan biaya yang cukup mahal, karena harus dilakukan survey lapangan agar mendapatkan suatu output data seperti pemetaan wilayah, tata guna lahan, jenis tanah, ketinggian tanah, pemanfaatan lahan, dan lain-lain. Atas dasar tersebutlah para ahli berfikir bagaimana cara untuk mendapatkan suatu output data tentang sumber daya suatu daerah dengan suatu teknologi yang dapat dipergunakan dengan efisien dan bagaimana cara menyajikan data tersebut kedalam suatu tampilan yang falid dan menarik. Maka dari itu terciptalah suatu teknologi yang sangat canggih yang mempergunakan sensor satelit, seperti pengindraan jauh (remote sensing) atau citra satelit samapai pada teknologi penyajian data seperti MapInfo, ArcView, dan lain-lain. Dengan kemajuan teknologi tersebut maka akhirnya telah berkembang sistem informasi geografi, yaitu suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk menangkap, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisa, dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis.

Kegunaan Sistem Informasi Sumberdaya Lahan yaitu :

  1. Sistem informasi sumber daya lahan berguna untuk memberikan informasi mengenai potensi suatu wilayah sehingga nantinya dapat digunakan untuk mengetahui perencanaan pengembangan wilayah.
  2. SIG dengan menggunakan Arcview berguna untuk memetekan suatu wilayah sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan dalam berbagai bidang, khususnya bidang pertanian.

Sistem Informasi Sumberdaya Lahan

Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia, seperti untuk pertanian, daerah industri, daerah pemukiman, jalan untuk transportasi, daerah rekreasi atau daerah-daerah yang dipelihara kondisi alamnya untuk tujuan ilmiah. Oleh karena itu sumberdaya lahan dapat dikatakan sebagai ekosistem karena adanya hubungan yang dinamis antara organisme yang ada di atas lahan tersebut dengan lingkungannya.

Penggunaan lahan secara umum tergantung pada kemampuan lahan dan pada lokasi lahan. Untuk aktivitas pertanian, penggunaan lahan tergantung pada kelas kemampuan lahan yang dicirikan oleh adanya perbedaan pada sifat-sifat yang menjadi penghambat bagi penggunaannya seperti tekstur tanah, lereng permukaan tanah, kemampuan menahan air dan tingkat erosi yang telah terjadi. Penggunaan lahan juga tergantung pada lokasi, khususnya untuk daerah-daerah pemukiman, lokasi industri, maupun untuk daerah-daerah rekreasi.

Dari berbagai macam bentuk penggunaan lahan dan faktor apa saja yang mempengaruhi penggunaan dan pemanfaatan lahan suatu daerah maka diperlukan suatu sistem yaitu sistem informasi sumber daya lahan yang berguna untuk hal tersebut.

Pengertian Sistem Informasi Geografis (SIG)

Pada dasarnya, istilah sistem informasi geografis merupakan gabungan dari tiga unsur pokok: sistem, informasi, dan geografis. Dengan melihat unsur-unsur pokoknya, maka jelas SIG merupakan salah satu sistem informasi dan SIG merupakan suatu sistem yang menekankan pada unsur “Informasi Geografis”. Istilah “Informasi Geografis” mengandung pengertian informasi mengenai keterangan-keterangan (atribut) yang terdapat di permukaan bumi yang posisinya pada permukaan bumi atau keadaan sebenarnya dari peta diberikan atau diketahui. Dengan memperhatikan pengertian Sistem Informasi, maka SIG merupakan suatu kesatuan formal yang terdiri dari berbagai sumber daya fisik dan logika yang berkenaan dengan objekobjek yang terdapat di permukaan bumi. Dan, SIG merupakan sejenis perangkat lunak yang dapat digunakan untuk pemasukkan, penyimpanan, manipulasi, menampilkan, dan keluaran informasi geografis berikut atribut-atributnya. Berikut subsistem dalam SIG :

  1. Data Input : Subsistem ini bertugas untuk mengumpulkan, mempersiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber, dan bertanggung jawab dalam mengkonversi format data-data aslinya ke dalam format yang dapat digunakan oleh SIG.
  2. Data Output : Subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran seluruh atau sebagian basisdata baik dalam bentuk softcopy maupun hardcopy seperti: tabel, grafik, peta dan lain-lain.
  3. Data Management : Subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun atribut ke dalam sebuah basidata sedemikian rupa sehingga mudah dipanggil, diupdate, dan diedit.
  4. Data Manipulasi dan Analisis : Subsistem ini menentukan informasi-informasi yang dapat dihasilkan oleh SIG. Selain itu, subsistem ini juga melakukan manipulasi dan pemodelan data untuk menghasilkan informasi yang diharapkan.

Alasan penggunaan SIG dalam memberikan sistem informasi sumber daya lahan adalah :

  1. SIG dapat digunakan sebagai alat bantu interktif yang menarik dalam usaha meningkatkan pemahaman mengenai konsep lokasi, ruang, kependudukan, dan unsur-unsur geografi lahan yang ada.
  2. SIG menggunakan data spasial maupun atribut secara terintegrasi.
  3. SIG dapat memisahkan antara bentuk presentasi dan basic data.
  4. SIG memiliki kemampuan menguraikan unsur-unsur yang ada di permukaan bumi ke dalam beberapa layer atau coverage data spasial.
  5. SIG sangat membantu dalam pekerjaan yang erat kaitannya dengan bidang spasial dan geoinformatika.

SIG sendiri terdiri dari beberapa komponen, yaitu :

  1. Perangkat Keras : Perangkat keras yang sering digunakan untuk SIG adalah komputer (PC), mouse, digitzer, printer, plotter, dan scanner.
  2. Perangkat Lunak : SIG juga merupakan sistem perangkat lunak yang tersusun secara modular dimana basisdata memegang peranan kunci. Setiap subsistem diimplementasikan dengan menggunakan perangkat lunak yang terdiri dari beberapa modul.
  3. Data dan Informasi Geografi : SIG dapat mengumpulkan dan menyimpan data dan informasi yang diperlukan baik secara tidak langsung dengan cara mengimportnya dari perangkat-perangkat lunak SIG yang lain maupun secara langsung dengan cara mendijitasi data spasialnya dari peta dan memasukkan data atributnya dari tabel-tabel dan laporan dengan menggunakan keyboard.
  4. Manajemen : Suatu proyek SIG akan berhasil jika dimanage dengan baik dan dikerjakan oleh orang-orang memiliki keahlian yang tepat pada semua tingkatan.

Model dunia nyata dapat memudahkan manusia di dalam studi area aplikasi yang dipilih dengan cara mereduksi sejumlah kompleksitas yang ada. Untuk merepresentasikan objek-objek seperti bentuk bangunan, batas-batas wilayah, garis-garis jalan raya, sungai, posisi pilar, dan sebagainya, yang dapat dilakukan oleh komputer adalah memanipulasi objek dasar atau entity yang memiliki atribut geometri. Hingga saat ini, secara umum, persepsi manusia mengenai bentuk representasi entity spasial adalah konsep raster dan vektor, sehingga untuk menyajikan entity spasial digunakan dua model data yakni :

  1. Model Data Raster : Model data raster menampilkan, menempatkan, dan menyimpan data spasial dengan menggunakan struktur matriks atau piksel-piksel yang membentuk grid. Akurasi model data ini sangat bergantung pada resolusi atau ukuran pikselnya (sel grid)di permukaan bumi. Entity spasial raster disimpan di dalam layers yang secara fungsionalitas direlasikan dengan unsur-unsur petanya. Model data raster memberikan informasi spasial apa yang terjadi dimana saja dalam bentuk gambaran yang digeneralisir.
  2. Model Data Vektor : Model data vektor menampilkan, menempatkan, dan menyimpan data spasial dengan menggunakan titik-titik, garis-garis atau kurva, atau poligon beserta atribut-atributnya. Bentuk-bentuk dasar representasi data spasial ini, di dalam sistem model data vektor, didefinisikan oleh sistem koodinat kartesian dua dimensi (x,y). Pada model data vektor terdapat tiga entity yaitu entity titik, entity garis, dan entity polygon.

Arcview GIS

ArcView merupakan salah satu perangkat lunak desktop Sistem Informasi Geografis dan pemetaan yang telah dikembangkan oleh ESRI. Kemampuankemampuan perangkat SIG Arc View ini secara umum dapat dijabarkan sebagai berikut :

  1. Pertukaran data : membaca dan menuliskan data dari dan ke dalam format perangkat lunak SIG lainnya.
  2. Melakukan analisis statistik dan operasi-operasi matematis.
  3. Menampilkan Informasi (basisdata) spasial maupun atribut.
  4. Menjawab query spasial maupun atribut.
  5. Melakukan fungsi-fungsi dasar SIG.
  6. Membuat peta tematik.
  7. Meng-customize aplikasi dengan menggunakan bahasa skrip.
  8. Melakukan fungsi-fungsi SIG khusus lainnya (dengan menggunakan extension yang ditujukan untuk mendukung penggunaan perangkat lunak SIG Arc View).

Komponen-komponen pada ArcView :

  1. Project, project merupakan suatu unit organisasi tertinggi di dalam ArcView yang dapat digunakan untuk menyimpan, mengelompokkan, dan mengorganisasikan semua komponen-komponen program : view, theme, tabel, chart, layout, dan script dalam satu kesatuan yang utuh. Sebuah project merupakan kumpulan windows dan dokumen yang dapat diaktifkan dan ditampilkan selama bekerja dengan ArcView. Project Arc View diimplementasikan ke dalam sebuah file teks (ASCII) dengan nama belakang (extension) “.APR”.
  2. Theme, themes merupakan suatu bangunan dasar sistem ArcView. Themes merupakan kumpulandari beberapa layer ArcView yang membentuk suatu ‘tematik’ tertentu. Sumber data yang dapat direpresentasikan sebagai theme adalah shapefile, coverage (ArcInfo), dan citra raster. Satu set data theme sekurang-kurangnya terdiri dari tiga format data sebagai berikut :
    1. *.shp : file yang memuat data grafis/geometry
    2. *.shx : file yang memuat index grafis/geometry
    3. *.dbf : file dBASE yang memuat informasi atribut/keterangan
    4. View, view mengorganisasikan theme. Sebuah view merupakan representasi grafis informasi spasial dan dapat menampung beberapa “layer” atau “theme” informasi spasial (titik, garis, poligon, dan citra raster). Seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan manajemen data grafis dapat dilakukan pada View, mulai dari input data, manipulasi tampilan data grafis, sampai analisis data.
    5. Tabel, sebuah tabel merupakan representasi data. Sebuah tabel akan berisi informasi deskriptif mengenai layer tertentu. Setiap baris data (record) mendefinisikan sebuah entry (misalnya informasi mengenai salah satu poligon batas propinsi) di dalam basisdata spasialnya, setiap kolom (field) mendefinisikan atribut atau karakteristik dari entry (misalnya nama, luas, keliling, atau populasi suatu propinsi) yang bersangkutan. Pada data vektor, data yang tersimpan dalam table saling terkoneksi dengan data grafis pada view. Perubahan data pada table akan menyebabkan perubahan data grafis pada View dan juga sebaliknya.
    6. Layout, Layout digunakan untuk menggabungkan semua dokumen (view, abel, dan chart) ke dalam suatu dokumen yang siap cetak Dalam layout dapat dilakukan penambahan berbagai atribut peta sesuai dengan kaedah-kaedah kartografi yang berlaku.

ArcView dalam operasinya menggunakan, membaca dan mengolah data dalam format Shapefile, selain itu ArcView jaga dapat memanggil data-data dengan format BSQ, BIL, BIP, JPEG, TIFF, BMP, GeoTIFF atau data grid yang berasal dari ARC/INFO serta banyak lagi data-data lainnya. Setiap data spasial yang dipanggil akan tampak sebagai sebuah Theme dan gabungan dari themetheme ini akan tampil dalam sebuah view. ArcView mengorganisasikan komponen-komponen programnya (viewthemetablechartlayout dan script) dalam sebuah projectProject merupakan suatu unit organisasi tertinggi di dalam ArcView.

Salah satu kelebihan dari ArcView adalah kemampaunnya berhubungan dan berkerja dengan bantuan extensionsExtensions (dalam konteks perangkat lunak SIG ArcView) merupakan suatu perangkat lunak yang bersifat “plug-in” dan dapat diaktifkan ketika penggunanya memerlukan kemampuan fungsionalitas tambahan (Prahasta). Extensions bekerja atau berperan sebagai perangkat lunak yang dapat dibuat sendiri, telah ada atau dimasukkan (di-instal) ke dalam perangkat lunak ArcView untuk memperluas kemampuan-kemampuan kerja dari ArcView itu sendiri. Contoh-contoh extensions ini sepertiSpasial AnalystEdit Tools v3.1Geoprocessing, JPEG (JFIF) Image SupportLegend ToolProjection Utility WizardRegister and Transform Tool dan XTools Extensions.

Berikut adalah peta yang dihasilkan dari Sistem Informasi Sumberdaya Lahan Menggunakan Arcview 3.2

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KETERSEDIAAN DAN SIKLUS HARA NITROGEN SERTA CARA UNTUK MEMPERTAHANKANNYA

Oktober 25, 2010 at 6:28 am (MATERI KULIAH)

Fenomena alam, menyatakan bahwa atmosfir terdiri dari 79% Nitrogen (berdasarkan volume) sebagai gas padat N2. Namun meskipun demikian, penyediaan makanan untuk kehidupan manusia dan hewan-hewan lainnya lebih dibatasi oleh nitrogen daripada unsur-unsur lainnya. Sebagai gas padat, N2 tidak bereaksi dengan unsur-unsur lainnya untuk menghasilkan suatu bentuk nitrogen yang dapat digunakan oleh sebagian besar tanaman ( Foth, 1991).

Peningkatan penyediaan nitrogen tanah untuk tanaman terdiri terutama dari meningkatnya jumlah pengikatan nitrogen secara biologis atau dengan penambahan pupuk baik sintetis juga non sintetis. Hal ini seolah-olah bertentangan, dimana unsur hara yang diabsorsi dari tanah dalam jumlah terbesar oleh tanaman adalah unsur hara yang sebagian besar sangat terbatas penyediaannya.

Adanya penambahan kesuburan alami dengan pupuk-pupuk komersil merupakan praktik pertnian modern. Walaupun demikian sebagian besar masyarakat modern menolak konsep komersial tersebut dengan alasan bahwa pupuk komersial mengandung bahan-bahan kimia beracun yang berbahaya bagi manusia, hewan dan lingkungan. Kenyataan bahwa nutriea itu memasuki tumbuhan dalam bentuk ion-ion, tidak perduli apakah asal pupuk itu organik atau anorganik (Gardner, dkk, 1991).

Ketersediaan Hara dan Siklus NItrogen

Nitrogen terdapat di dalam tanah dalam bentuk organik dan anorganik. Bentuk-bentuk organik meliputi NH4+, NO3, NO2, NO2, NO dan unsur N. Juga terdapat bentuk lain yaitu hidroksi amin (NH2OH), tetapi bentuk ini merupakan bentuk antara, yaitu bentuk peralihan dari NH4+, menjadi NO2 dan bentuk ini tidak stabil (Hakim, dkk,1991). Penyediaan ion dalam tanah dapat dipandang dari sudut mineral dengan masukan dan kehilangan dari ekosistem dan laju transfer diantara komponen sistem.

Pendekatan ini berharga bagi nitrogen, dimana masukan karena curah hujan dan fiksasi serta kehilangan akibat pencucian dan denitrifikasi merupakan sebagian besar dari jumlah seluruhnya yang ada dengan siklus sistem tersebut. Untuk ion yang di absorbsi, masukan ini tidak berarti dibandingkan dengan dengan jumlah seluruhnya yang ada, termasuk kehilangana karena pencucian dalam tanah-tanah subur.

Siklus nitrogen adalah kompleks dan kompertemen organik merupakan bagian yang dominan, beberapa macam bakteri terlihat dalam pengubahan NH4+ menjadi NO3+ (Nitrobacter, Nitrosomonas, Nitrosococcus adalah yang paling penting), tetapi kedua bentuk itu dapat diambil oleh banyak tanaman dengan fasilitas yang sama.

Lebih penting lagi adalah produksi NH4+ yang dihasilkan dari bahan organik yang dibawa oleh bermacam-macam fungsi dan bakteri. Perombak dekomposisi ini juga membutuhkan N, tetapi jika bahan mempunyai kandungan N rendah, bahan itu akan dipesatukan ke dalam biomassa dan tidak dibebaskan, sampai penyediaan karbon berkurang ( Fitter dan Hay, 1991).

Rasio Carbon-Nitrogen (C/N) merupakan cara untuk menunjukkan gambaran kandungan Nitrogen relatif . Rasio C/N dari bahan organik merupakan petunjuk kemungkinan kekurangan nitrogen dan persaingan di antara mikroba-mikroba dan tanaman tingkat tinggi dalam penggunaan nitrogen yang tersedia dalam tanah (Foth, 1991).

Faktor utama yang mempengaruhi keputusan pengelolaan mengenai penggunaan dan pemakaian pupuk adalah kehilangan nitrat karena pencucian, denitripikasi dan kehilangan nitrogen sebagai N2, kehilangan amonia karena penguapan (valatilisasi ) (Foth,1991).

Didalam siklusnya nitrogen di dalam tanah mengalami mineralisasi, sedangkan bahan mineral mengalami imobilisasi. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa N yang hilang ke atmosfir merupakan bagian terbesar. Secara teoritis, di simpulkan bahwa N yang terdapat di dalam tanah akan habis terangkut dalam waktu yang sangat lama dan sebagian besar N yang tertinggal didalam tanah sesudah tahun pertama bukan dalam bentuk nitrat tetapi dalam bentuk bahan organik .

Ketersediaan N tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan seperti iklim dan macam vegetasi yang kesemuanya dipengaruhi oleh keadaan setempat seperti topogrifi, batuan induk, kegiatan manusia dan waktu ( Hakim, dkk,1988 )

Beberapa Aplikasi Untuk Mempertahankan Ketersediaan Nitrogen

Bahan organik meningkatkan produktifitas tanah melalui mineralisasi zat-zat hara. Bahan organik mempunyai kapasitas tukar kation yang tinggi, daya ikat air yang tinggi dan mampu meningkatkan sifat fisik tanah. Bakteri Rhizobium yang hidup secara simbiotik pada bintil akar tanaman leguminosa memfiksasi nitrogen dengan enzim nitrogenase yang berkombinasi dengan molekul dinitrogen (N2) ( Foth, 1991).

Kondisi Fisika dan Kimia Tanah di Bawah Aplikasi Stylosanthes dan Tanah Alami

Kondisi Stylosanthes (selama 3 tahun) Tanah Alami (lebih dari 3 tahun)
Kandungan N (g/kg) 1,14 0,87
CEC (cmol/kg) 3,24 2,22
Carbon Organik(g/kg) 4,31 2,70
Pulk Dencity (g/cm³ ) 1,51 1,66
Total porositas (%) 43,10 37,40
Makro porositas (%) 42,10 36,40
Makro Organisme (%) 34 x 107 12 x 107

( Sumber : Tarawali dan Ikwuegbu, 1993 ).

Dari hasil penelitian Kriangsak (1986), pembenaman azolla menunjukan efektif sebagai sumber nitrogen untuk padi ditandai dengan hasil yang berbeda nyata masing-masing terdapat penumpukan dengan 70 kgN/ha dan kontrol. Diperkirakan dengan pemakaian Azolla memperoleh keuntungan tertinggi sebesar  367.08 (103,55 %)

Perlakuan Jlh. Biji Berisi Jlh. Biji Hampa Berat 1000 Biji (g) Prod. Biji (ton/ha) Prod. Jerami (ton/ha)
Control 55,22 a 15,76 a 23,47 c 3,11 a 1,29 b
70 kg N / ha 59,77 a 13,29 bc 24,63 b 3,52 b 1,73 a
5 t azolla/ha 66,18 a 13,82 b 25,41 ab 3,67 ab 1,39 a
10 t azolla/ha 70,98 a 12,08 bc 25,88 a 4,04 ab 1,61 a
15 t azolla/ha 75,55 a 11,75 c 26,00 a 4,11 a 1,74 a

Goldnya :

Nitrogen di dalam tanah terdapat dalam bentuk organik dan anorganik. Dengan komposisi nitrogen di atmosfir (79%), nitrogen masih merupakan faktor pembatas bagi penyediaan makanan bagi manusia dan hewan. Hal ini disebabkan karena sebagai gas padat, nitrogen tidak bereaksi dengan unsur-unsur lainnya agar dapat digunakan.

Rasio C/N merupakan cara untuk menunjukkan gambaran kandungan nitrogen relatif.

Faktor utama yang mempengaruhi keputusan pengelolaan mengenai penggunaan dan pemakaian pupuk adalah kehilangan nitrat karena pencucian denitrifikasi dan kehilangan nitrogen sebagai N2, kehilangan amonia karena penguapan

Penggunaan bahan organik, penanaman tanaman Leguminosa, penggunaan Azolla, serta teknik simbiosis dan non simbiosis lainnya mampu menjaga ketersedian Nitrogen di dalam tanah tanpa penggunaan sumber nitrogen sintetis.

Permalink 2 Komentar

BIOLOGI TANAH

Oktober 25, 2010 at 1:13 am (MATERI KULIAH)

BIOLOGI TANAH

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KARST SEBAGAI ASSET DAERAH KABUPATEN GUNUNG KIDUL

Oktober 24, 2010 at 11:17 am (PIKIR-PIKIR SAMBIL NGUPIL)

KARST SEBAGAI ASSET DAERAH KABUPATEN GUNUNG KIDUL

Istilah karst aslinya dari kata krst yang berasal dari bahasa Yugoslavia yang dipakai untuk menyebut semua kawasan batugamping yang telah mengalami pelarutan. Tipologi karst dapat dibedakan menjadi (1) holokarst yang berkembang sempurna(2) merokarst yang berkembang kurang sempurna dan (3) platform karst yang ditandai oleh banyaknya kelurusan dan struktur patahan. Selain klasifikasi karst tersebut, terdapat tipologi karst lain yaitu (1) karst terbuka (2) karst tertutup (3) karst tertutup tanah (4) karst terpendam (5) karst tropik dan (6) karst permafrost.

Berdasarkan klasifikasi karst tersebut kawasan karst gunungsewu termasu tipe holokarst tropik dan relatif terbuka (sedikit vegetasi) Kenampakan eksokarst nempak masih dapat diamati seperti lapies, dolin, uvala, lembah kering, tower dan cone karst, sedangkan kenampakan endokarst seperti goa, sungai bawah tanah juga banyak dijumpai. Kawasan karst di Kabupaten Gunungkidul memiliki karakteritik yang spesifik, unik, spektakuler, dan non renewable ecosystem serta decoratif landscape resourcess dengan fragilitas tinggi terhadap risiko kerusakan lingkungan.

Sebagai sumberdaya lingkungan hidup pemanfaatan kawasan karst di Kabupaten Gunungkidul mengarah pada pemenuhan kebutuhan manusia ,namun kurang diimbangi kegiatan pelestarian ekosistem alamiahnya yang merupakan asset dunua (world herritage). Kegiatan pertanian, pemukiman,pertambangan, pariwisata, peternakan, perkebunan, yang terus berkembang pada lokasi yang tak sesuai dengan kualitas karstnya akan berdampak negatif pada kerusakan ekologisnya. Sebagai asset daerah perlu dikembangkan manfaat potensi yang ada berdasarkan pada zonasi kelas karst. Hal ini dimaksudkan  agar dapat dijaga nilai nilai geo-biodiversitas, stabilitas sumberdaya alam dan lingkungan serta sumberdaya ruangnya

Potensi Kawasan Karst sebagai Asset Pembangunan

Kawasan karst di Kabupaten Gunungkidul terletak antara 7o5’56” LS sampai 8o12’40” LS dan 110o19’33” BT sampai 110o49’50” BT.   dengan  batas alamiah eksokrast berupa batas kenampakan morfologis, yaitu :

Sebelah utara               : Cekungan Wonosari, Pegunungan Baturagung

Sebelah selatan            : Samudra Hindia

Sebelah barat               : Cekungan Wonosari, Dataran Aluvial Merapi

Sebelah timur              : Pegunungan Sewu di Kabupaten Wonogiri

Melihat batas alamiah tersebut di atas dapat diperkirakan luasannya  kurang lebih mencakup 741,01 km2.

Potensi kawasan karst yang spesifik dan unik mempengaruhi kondisi dinamika lingkungan hidup dan karakteristik makhluk hidup yang ada termasuk manusia. Berdasarkan analisis potensi kawasan karst di Kabupaten Gunungkidul dapat di bedakan menjadi :

  1. Sumberdaya alam (natural resources)yang meliputi lahan, mineral, air, tumbuhan dan hewan
  2. Sumberdaya lingkungan (ecological resources) yang meliputi lingkungan eksokars dan endokarst yang berada di zona pantai, zona inti dan sub inti karst
  3. Sumberdaya ruang(spatial resources) meliputi ruang bawah permukaan (goa dan sungai bawah tanah) dan ruang dekat permukaan ( konfigurasi bentang lahan)
  4. Sumberdaya manusia (human resources)yang adaftif dari aspek ekologis, ekonomi dan sosiokultur yang  khas
  5. Sumberdaya buatan (man made resources) meliputi sarana dan prasarana kehidupan

Sebagai gambaran umum deskripsi potensi utama kawasan karst yang mendukung kehidupan dan pembangunan daerah adalah sebagai berikut :

  1. Potensi Sumberdaya Lahan : Potensi kesesuaian lahan di kawasan karst sangat terbatas peruntukannya karena pembatas ketersediaan air, tanah dan medan.  satuan medan.
  2. Potensi Sumberdaya Air : Tipe karst  Gunung Sewu merupakat aset dunia (world Heritage)di daerah iklim tropik memiliki struktur kekar (joint) yang sangat berkembang ,sehingga daerah ini sangat meluluskan air. Oleh karena itu, di daerah ini tidak terdapat sungai-sungai besar yang dapat dimanfaatkan. Kondisi topografi yang berbukit serta banyak rekahan-rekahan meyebabkan proses solusional berlangsung insentif oleh kerja aliran air permukaan langsung masuk  ke dalam tanah dan batuanyang  membentuk aliran bawah tanah dan atau telaga. Potensi air yang ada di daerah karst dan potensial dimanfaatkan meliputi air hujan, air permukaan , mata air dan air dari sungai bawah tanah. Telaga karst (karst lake)di Kabupaten Gunung Kidul dapat diketahui bahwa umumnya memiliki bentuk dan luas yang tidak sama. Keberadaan telaga memberikan sumbangan yang tidak kecil sebagai sumber air di kawasan karst. Pemunculan airtanah secara alami dapat berupa mata air (Spring) ataupun berupa rembesan (Seepage). Mata air adalah pemusatan pengeluaran air tanah yang muncul pada permukaan tanah sebagai arus dari aliran air (Tolman). Bila pengeluarannya tidak terpusat membentuk suatu bidang tersebut dengan rembesan (Seepage)  Pola sebaran hujan yang terjadi umumnya pada bulan Januari merupakan bulan dengan curah hujan tertinggi dan selanjutnya bulan Juli merupakan awal bulan kering.  Kemudian curah hujan akan mengalami kenaikan pada Bulan Oktober hingga bulan Desember. Kondisi pola hujan ini berpengaruh pada kegiatan manusia dan kehidupan tumbuhan dan hewan yang ada. Keterdapatan aliran air sungai bawah tanah  terbentuk oleh adanya  sistem sungai bawah tanah yang bermuara di Baron (system Baron) dan  mungkin masih ada sistem-sistem lain tetapi masih belum dapat dipastikan , misalnya sistem Ngobaran atau mungkin juga sistem Sundak . Sistem Baron ini sendiri masih dapat dipilah-pilah menjadi beberapa sub sistem yang lebih kecil, diantaranya sub sistem Bribin. Di kawasan karst ini  terdapat pula tiga buah pintu masuk sungai bawah tanah perennial, yaitu Sungai Tegoan, Kali Suci dan Kali Serpeng yang kemudian menjadi sungai bawah tanah.
  3. Potensi Sumberdaya mineral : Kawasan karst pada umumnya memiliki potensi sumberdaya mineral yang memiliki prospek baik untuk ditambang. Namun kegiatan penambangan dapat berdampak pada memburuknya lingkungan hidup bila tidak dikelola dengan baik. Lempung hasil pelapukan batu gamping dijumpai di banyak lokasi wilayah Kecamatan Ponjong. Lempung yang terbentuk adalah monmorilonit dan ilit. Besarnya kualitas SiO2 terpacu pula oleh mineral penyusun batuan lainnya yang tererosi ke selatan, selanjutnya terangkut melewati dan sebagian teredapkan pada lahan berbatu gamping.  Kawasan karst pada umumnya memiliki potensi sumberdaya mineral yang memiliki prospek baik untuk ditambang. Namun kegiatan penambangan dapat berdampak pada memburuknya lingkungan hidup bila tidak dikelola dengan baik. Lempung hasil pelapukan batu gamping dijumpai di banyak lokasi wilayah Kecamatan Ponjong. Lempung yang terbentuk adalah monmorilonit dan ilit. Besarnya kualitas SiO2 terpacu pula oleh mineral penyusun batuan lainnya yang tererosi ke selatan, selanjutnya terangkut melewati dan sebagian teredapkan pada lahan berbatu gamping.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MATERI KULIAH KESUBURAN TANAH

Oktober 24, 2010 at 11:03 am (MATERI KULIAH)

Materi Kuliah Setelah UTS….(lainnya menyusul)

Kesuburan tnh ke 8

Kesuburan tnh ke9

Kesuburan tnh ke 10

Kesuburan tnh ke 11

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

LAPORAN PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH

Oktober 24, 2010 at 10:12 am (PRAKTIKUM ILMU TANAH)

Evaluasi Lahan Pesisir Pantai Samas, DIY

LAPORAN RESMI

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

LAPORAN DASAR-DASAR ILMU TANAH

Oktober 24, 2010 at 10:04 am (PRAKTIKUM ILMU TANAH)

Tanah adalah lapisan permukaan bumi paling luar sebagai tempat tumbuhnya tanaman. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan induk (anorganik) dan bahan-bahan organik dari tumbuhan dan hewan yang telah membusuk. Bahan yang menyusun tanah terdiri atas zat padat, cair, gas, dan organisms. Pelapukan batuan induk pembentuk tanah di daerah tropis seperti Indonesia sangat dipengaruhi faktor suhu dan kelembapan udara.

Tanah tersusun dari: (a) bahan padatan, (b) air, dan (c) udara. Bahan padatan tersebut dapat berupa: (a) bahan mineral, dan (b) bahan organik. Bahan mineral terdiri dari partikel pasir, debu dan liat. Ketiga partikel ini menyusun tekstur tanah. Bahan organik dari tanah mineral berkisar 5% dari bobot total tanah. Meskipun kandungan bahan organik tanah mineral sedikit (+5%) tetapi memegang peranan penting dalam menentukan Kesuburan Tanah.

Pada masa pembangunan seperti sekarang tanah yg awalnya dimanfaatkan sebagai lahan pertanian sudah mengalami perubahan menjadi pemukiman penduduk. Desa berkembang menjadi kota, kota berkembang menjadi sebuah kota yg lebih besar. Kota metropolitan bahkan megapolitan semakin bertambahnya populasi manusia bertambah pula kebutuhan tanah untuk bermukim, sehingga lahan pertanian akan semakin berkurang sedangkan kebutuhan pangan manusia semakin meningkat. Hal ini sudah menjadi fenomena umum dalam kehidupan. Oleh karena itu tanah harus digunakan sebaik-baiknya dan seefisien mungkin.

Praktikum ini adalah sebagai sarana untuk mempelajari tentang tanah sehingga kita dapat menentukan tindakan pengelolaan dan pemanfaatan yg terbaik untuk berbagai macam jenis dan sifat tanah yg kita temukan dilapangan.

 

BAB I_awal

BAB I_sambung

BAB II_awal

BAB II_sambng

BAB III_awal

BAB III_sambung

BAB IV_awal

BAB IV_sambung

BAB V_awal

BAB V_sambung

BAB VI_awal

BAB VI_sambung

BAB VII_awal

BAB VII_SAMBUNG

Permalink 1 Komentar