KARST SEBAGAI ASSET DAERAH KABUPATEN GUNUNG KIDUL

Oktober 24, 2010 at 11:17 am (PIKIR-PIKIR SAMBIL NGUPIL)

KARST SEBAGAI ASSET DAERAH KABUPATEN GUNUNG KIDUL

Istilah karst aslinya dari kata krst yang berasal dari bahasa Yugoslavia yang dipakai untuk menyebut semua kawasan batugamping yang telah mengalami pelarutan. Tipologi karst dapat dibedakan menjadi (1) holokarst yang berkembang sempurna(2) merokarst yang berkembang kurang sempurna dan (3) platform karst yang ditandai oleh banyaknya kelurusan dan struktur patahan. Selain klasifikasi karst tersebut, terdapat tipologi karst lain yaitu (1) karst terbuka (2) karst tertutup (3) karst tertutup tanah (4) karst terpendam (5) karst tropik dan (6) karst permafrost.

Berdasarkan klasifikasi karst tersebut kawasan karst gunungsewu termasu tipe holokarst tropik dan relatif terbuka (sedikit vegetasi) Kenampakan eksokarst nempak masih dapat diamati seperti lapies, dolin, uvala, lembah kering, tower dan cone karst, sedangkan kenampakan endokarst seperti goa, sungai bawah tanah juga banyak dijumpai. Kawasan karst di Kabupaten Gunungkidul memiliki karakteritik yang spesifik, unik, spektakuler, dan non renewable ecosystem serta decoratif landscape resourcess dengan fragilitas tinggi terhadap risiko kerusakan lingkungan.

Sebagai sumberdaya lingkungan hidup pemanfaatan kawasan karst di Kabupaten Gunungkidul mengarah pada pemenuhan kebutuhan manusia ,namun kurang diimbangi kegiatan pelestarian ekosistem alamiahnya yang merupakan asset dunua (world herritage). Kegiatan pertanian, pemukiman,pertambangan, pariwisata, peternakan, perkebunan, yang terus berkembang pada lokasi yang tak sesuai dengan kualitas karstnya akan berdampak negatif pada kerusakan ekologisnya. Sebagai asset daerah perlu dikembangkan manfaat potensi yang ada berdasarkan pada zonasi kelas karst. Hal ini dimaksudkan  agar dapat dijaga nilai nilai geo-biodiversitas, stabilitas sumberdaya alam dan lingkungan serta sumberdaya ruangnya

Potensi Kawasan Karst sebagai Asset Pembangunan

Kawasan karst di Kabupaten Gunungkidul terletak antara 7o5’56” LS sampai 8o12’40” LS dan 110o19’33” BT sampai 110o49’50” BT.   dengan  batas alamiah eksokrast berupa batas kenampakan morfologis, yaitu :

Sebelah utara               : Cekungan Wonosari, Pegunungan Baturagung

Sebelah selatan            : Samudra Hindia

Sebelah barat               : Cekungan Wonosari, Dataran Aluvial Merapi

Sebelah timur              : Pegunungan Sewu di Kabupaten Wonogiri

Melihat batas alamiah tersebut di atas dapat diperkirakan luasannya  kurang lebih mencakup 741,01 km2.

Potensi kawasan karst yang spesifik dan unik mempengaruhi kondisi dinamika lingkungan hidup dan karakteristik makhluk hidup yang ada termasuk manusia. Berdasarkan analisis potensi kawasan karst di Kabupaten Gunungkidul dapat di bedakan menjadi :

  1. Sumberdaya alam (natural resources)yang meliputi lahan, mineral, air, tumbuhan dan hewan
  2. Sumberdaya lingkungan (ecological resources) yang meliputi lingkungan eksokars dan endokarst yang berada di zona pantai, zona inti dan sub inti karst
  3. Sumberdaya ruang(spatial resources) meliputi ruang bawah permukaan (goa dan sungai bawah tanah) dan ruang dekat permukaan ( konfigurasi bentang lahan)
  4. Sumberdaya manusia (human resources)yang adaftif dari aspek ekologis, ekonomi dan sosiokultur yang  khas
  5. Sumberdaya buatan (man made resources) meliputi sarana dan prasarana kehidupan

Sebagai gambaran umum deskripsi potensi utama kawasan karst yang mendukung kehidupan dan pembangunan daerah adalah sebagai berikut :

  1. Potensi Sumberdaya Lahan : Potensi kesesuaian lahan di kawasan karst sangat terbatas peruntukannya karena pembatas ketersediaan air, tanah dan medan.  satuan medan.
  2. Potensi Sumberdaya Air : Tipe karst  Gunung Sewu merupakat aset dunia (world Heritage)di daerah iklim tropik memiliki struktur kekar (joint) yang sangat berkembang ,sehingga daerah ini sangat meluluskan air. Oleh karena itu, di daerah ini tidak terdapat sungai-sungai besar yang dapat dimanfaatkan. Kondisi topografi yang berbukit serta banyak rekahan-rekahan meyebabkan proses solusional berlangsung insentif oleh kerja aliran air permukaan langsung masuk  ke dalam tanah dan batuanyang  membentuk aliran bawah tanah dan atau telaga. Potensi air yang ada di daerah karst dan potensial dimanfaatkan meliputi air hujan, air permukaan , mata air dan air dari sungai bawah tanah. Telaga karst (karst lake)di Kabupaten Gunung Kidul dapat diketahui bahwa umumnya memiliki bentuk dan luas yang tidak sama. Keberadaan telaga memberikan sumbangan yang tidak kecil sebagai sumber air di kawasan karst. Pemunculan airtanah secara alami dapat berupa mata air (Spring) ataupun berupa rembesan (Seepage). Mata air adalah pemusatan pengeluaran air tanah yang muncul pada permukaan tanah sebagai arus dari aliran air (Tolman). Bila pengeluarannya tidak terpusat membentuk suatu bidang tersebut dengan rembesan (Seepage)  Pola sebaran hujan yang terjadi umumnya pada bulan Januari merupakan bulan dengan curah hujan tertinggi dan selanjutnya bulan Juli merupakan awal bulan kering.  Kemudian curah hujan akan mengalami kenaikan pada Bulan Oktober hingga bulan Desember. Kondisi pola hujan ini berpengaruh pada kegiatan manusia dan kehidupan tumbuhan dan hewan yang ada. Keterdapatan aliran air sungai bawah tanah  terbentuk oleh adanya  sistem sungai bawah tanah yang bermuara di Baron (system Baron) dan  mungkin masih ada sistem-sistem lain tetapi masih belum dapat dipastikan , misalnya sistem Ngobaran atau mungkin juga sistem Sundak . Sistem Baron ini sendiri masih dapat dipilah-pilah menjadi beberapa sub sistem yang lebih kecil, diantaranya sub sistem Bribin. Di kawasan karst ini  terdapat pula tiga buah pintu masuk sungai bawah tanah perennial, yaitu Sungai Tegoan, Kali Suci dan Kali Serpeng yang kemudian menjadi sungai bawah tanah.
  3. Potensi Sumberdaya mineral : Kawasan karst pada umumnya memiliki potensi sumberdaya mineral yang memiliki prospek baik untuk ditambang. Namun kegiatan penambangan dapat berdampak pada memburuknya lingkungan hidup bila tidak dikelola dengan baik. Lempung hasil pelapukan batu gamping dijumpai di banyak lokasi wilayah Kecamatan Ponjong. Lempung yang terbentuk adalah monmorilonit dan ilit. Besarnya kualitas SiO2 terpacu pula oleh mineral penyusun batuan lainnya yang tererosi ke selatan, selanjutnya terangkut melewati dan sebagian teredapkan pada lahan berbatu gamping.  Kawasan karst pada umumnya memiliki potensi sumberdaya mineral yang memiliki prospek baik untuk ditambang. Namun kegiatan penambangan dapat berdampak pada memburuknya lingkungan hidup bila tidak dikelola dengan baik. Lempung hasil pelapukan batu gamping dijumpai di banyak lokasi wilayah Kecamatan Ponjong. Lempung yang terbentuk adalah monmorilonit dan ilit. Besarnya kualitas SiO2 terpacu pula oleh mineral penyusun batuan lainnya yang tererosi ke selatan, selanjutnya terangkut melewati dan sebagian teredapkan pada lahan berbatu gamping.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: